DetakiNews , — Pagi itu, langit di pesisir Tanah Merah tampak bersih tanpa selimut kabut asap. Angin berhembus pelan menyusuri vegetasi rawa dan semak belukar yang kerap menjadi titik rawan kebakaran. Di tengah suasana yang tenang itu, langkah-langkah kecil namun penuh makna sedang dilakukan untuk menjaga alam tetap lestari.
Adalah Babinsa Kuala Enok Koramil 02/Tanah Merah (TM), Kodim 0314/Inhil, Pratu Jafar, yang kembali menyusuri wilayah binaannya pada Minggu (29/3/2026). Patroli ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari upaya nyata mencegah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap menghantui wilayah Kabupaten Indragiri Hilir saat musim kering tiba.
Dengan titik koordinat patroli di 0°31'5"S 103°23'8" E, Pratu Jafar bergerak bersama dua warga setempat. Tanpa hiruk-pikuk, tanpa sorotan, mereka menyusuri area yang dikenal rawan. Setiap langkah adalah kewaspadaan, setiap pandangan adalah upaya memastikan tidak ada percikan api yang berpotensi menjadi bencana besar.
“Patroli ini kami lakukan secara rutin. Tujuannya sederhana, memastikan wilayah tetap aman dan tidak ada aktivitas pembakaran lahan,” ujar Pratu Jafar di sela kegiatan.
Keterlibatan masyarakat menjadi warna tersendiri dalam patroli tersebut. Dua warga yang turut serta bukan hanya sekadar pendamping, melainkan mitra strategis dalam menjaga lingkungan. Mereka memahami betul karakter wilayahnya—kapan tanah mulai mengering, di mana titik rawan berada, dan bagaimana kebiasaan masyarakat setempat dalam membuka lahan.
Sinergi ini menjadi kunci penting. Dalam banyak kasus, karhutla bukan hanya persoalan alam, tetapi juga akibat aktivitas manusia. Karena itu, pendekatan persuasif dan kehadiran langsung di lapangan menjadi langkah efektif untuk membangun kesadaran bersama.
Sepanjang patroli, tim tidak menemukan adanya titik api maupun kepulan asap. Hasil ini tentu membawa kelegaan. Namun bagi Pratu Jafar, nihilnya temuan bukan berarti tugas selesai.
“Justru saat kondisi aman seperti ini, kita harus tetap waspada. Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan,” tegasnya.
Di wilayah pesisir seperti Kuala Enok, potensi karhutla bisa datang tanpa tanda besar. Lahan gambut yang mengering dapat dengan mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Karena itu, patroli rutin menjadi benteng pertama dalam sistem deteksi dini.
Lebih dari sekadar pengawasan, patroli ini juga menjadi sarana komunikasi sosial. Dalam setiap kesempatan, Pratu Jafar terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Edukasi dilakukan secara langsung, dari satu warga ke warga lainnya, membangun kesadaran kolektif yang berkelanjutan.
Langkah kecil yang dilakukan di sudut-sudut sunyi seperti Kuala Enok ini mungkin jarang terdengar. Namun dampaknya besar. Dari sinilah, upaya menjaga langit tetap biru dan udara tetap bersih dimulai.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman karhutla yang terus mengintai, kehadiran aparat dan keterlibatan masyarakat menjadi harapan. Bahwa menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
Dan hari itu, di koordinat sederhana di pesisir Indragiri Hilir, harapan itu masih terjaga—tanpa api, tanpa asap, hanya komitmen yang terus menyala.
