iklan

Menjaga Tapal Batas, Menjaga Harapan: Patroli Sunyi di Pelangiran Tanpa Asap

Minggu, 29 Maret 2026 | 12.14 WIB Last Updated 2026-03-29T05:15:06Z


DetakiNews, — Langit di Kelurahan Pelangiran, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir masih tampak bersih. Udara terasa lembap khas wilayah pesisir gambut. Di tengah ketenangan itu, langkah kaki Sertu Dodi Eka Putra terdengar pelan menyusuri jalur tapal batas—wilayah yang kerap menjadi titik rawan kebakaran hutan dan lahan.


Sebagai Babinsa Koramil 10/Pelangiran (Plg), kodim 0314/Inhil, Sertu Dodi memahami betul bahwa tugasnya bukan sekadar patroli biasa. Ini adalah bagian dari upaya menjaga ekosistem, melindungi masyarakat, sekaligus mencegah bencana yang bisa datang tanpa peringatan.


Dengan titik koordinat 0°10'32,279" N dan 103°29'35,426" E sebagai sasaran, patroli hari itu dilakukan bersama satu orang warga setempat. Hanya dua orang, namun membawa tanggung jawab besar. Mereka melangkah menyusuri batas wilayah, melewati semak belukar, tanah gambut yang lunak, hingga jalur-jalur kecil yang jarang tersentuh.


“Di wilayah seperti ini, api bisa muncul tiba-tiba dan cepat menyebar,” ujar Sertu Dodi, sambil sesekali mengamati kondisi tanah dan vegetasi di sekitarnya.


Tidak ada suara sirene, tidak ada keramaian. Hanya suara alam—desiran angin, gesekan daun, dan langkah kaki yang berhati-hati. Namun di balik kesunyian itu, tersimpan kewaspadaan tinggi. Setiap jengkal lahan diperhatikan, setiap tanda kecil diperiksa: apakah ada bekas pembakaran, kepulan asap, atau bara tersembunyi.


Patroli tapal batas seperti ini menjadi garda terdepan dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang selama ini menjadi ancaman serius di wilayah Indragiri Hilir. Bukan hanya merusak lingkungan, karhutla juga berdampak pada kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.


Menariknya, keterlibatan masyarakat dalam patroli ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga kesadaran bersama. Warga yang ikut mendampingi bukan sekadar penunjuk jalan, melainkan bagian dari sistem kewaspadaan dini yang terus dibangun.


Perjalanan patroli berlangsung beberapa jam. Menyisir, mengamati, memastikan. Hingga akhirnya, hasil yang diharapkan pun didapatkan: tidak ditemukan titik api maupun asap di wilayah yang dipantau.


Bagi sebagian orang, hasil “nihil” mungkin terdengar biasa. Namun bagi mereka yang bertugas di lapangan, itu adalah kabar baik—tanda bahwa alam masih terjaga, bahwa upaya pencegahan berjalan efektif, dan bahwa kerja sama antara TNI dan masyarakat membuahkan hasil nyata.


Sertu Dodi berhenti sejenak, memandang hamparan lahan yang tetap hijau dan tenang. Di balik tugas sederhana itu, ada harapan besar: agar wilayah Pelangiran tetap bebas dari bencana asap, agar generasi mendatang masih bisa menikmati udara bersih, dan agar kesadaran menjaga lingkungan terus tumbuh.


“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi,” ucapnya singkat.


Patroli hari itu mungkin berakhir tanpa temuan titik api. Namun langkah kecil yang dilakukan di tapal batas Pelangiran adalah bagian dari perjuangan panjang—menjaga bumi tetap bernapas, tanpa asap.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menjaga Tapal Batas, Menjaga Harapan: Patroli Sunyi di Pelangiran Tanpa Asap

Trending Now

iklan