detakiNews.com – Kasus suspek Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, menunjukkan tren peningkatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Inhil mencatat jumlah suspek dengue naik dari 11 kasus pada minggu ke-41 menjadi 15 kasus pada minggu ke-42.
Peningkatan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah. Dinas Kesehatan Inhil pun mulai menggencarkan langkah pencegahan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni pengasapan atau fogging di kawasan Jalan Suhada 2, Kelurahan Tembilahan Hulu, Kecamatan Tembilahan Hulu.
Dalam kegiatan tersebut, petugas kesehatan menyasar sekitar 150 rumah warga. Fogging dilakukan sebagai respons atas laporan kasus DBD di kawasan itu sekaligus menekan populasi nyamuk dewasa yang berpotensi menularkan virus dengue.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir, dr Udin Syafriudin, mengatakan peningkatan jumlah suspek dengue perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, berbagai langkah pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
"Memang ada peningkatan laporan suspek dengue berdasarkan data SKDR. Pada minggu ke-41 tercatat sebanyak 11 kasus, kemudian pada minggu ke-42 meningkat menjadi 15 kasus. Kondisi ini menjadi perhatian kita untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah pencegahan," ujarnya kepada awak media, Sabtu (31/10/2026).
Ia menjelaskan, fogging merupakan salah satu bentuk intervensi untuk membunuh nyamuk dewasa pembawa virus dengue. Namun, pelaksanaannya bukan satu-satunya cara untuk mengendalikan penyebaran DBD.
Pengasapan di Jalan Suhada 2 dilakukan terhadap sekitar 150 rumah warga. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan populasi nyamuk dewasa dan mengurangi risiko penularan di lingkungan permukiman.
Menurut kepala Dinas Kesehatan dr Udin, masyarakat tidak boleh menganggap fogging sebagai solusi utama. Sebab, pengasapan hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara telur dan jentik nyamuk yang berada di tempat penampungan air masih berpotensi berkembang menjadi nyamuk baru.
"Fogging ini bukan solusi utama. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat secara rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus. Kalau tempat perkembangbiakannya tidak dibersihkan, nyamuk akan kembali berkembang biak," jelasnya.
Karena itu, Dinkes Inhil mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan, terutama dengan memperhatikan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Gerakan 3M Plus dapat dimulai dari lingkungan rumah masing-masing. Pertama, menguras tempat penampungan air minimal satu kali dalam seminggu. Kedua, menutup rapat tempat penampungan air agar tidak menjadi tempat nyamuk bertelur. Ketiga, mendaur ulang atau menyingkirkan barang-barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Selain tiga langkah tersebut, masyarakat juga diminta melakukan sejumlah upaya tambahan. Di antaranya menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air yang sulit dikuras, memelihara ikan pemakan jentik, menggunakan kelambu saat tidur, serta memakai losion antinyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk.
Masyarakat juga diimbau tidak membiasakan menggantung pakaian bekas pakai di dalam rumah karena dapat menjadi tempat persembunyian nyamuk.
Dinkes Inhil berharap kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan semakin meningkat, terutama di tengah bertambahnya laporan suspek dengue.
Upaya pencegahan, menurutnya, tidak cukup hanya dilakukan ketika ditemukan kasus atau saat fogging dilaksanakan. Pemberantasan sarang nyamuk harus menjadi kebiasaan sehari-hari agar rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dapat diputus.
Dengan keterlibatan aktif masyarakat, diharapkan peningkatan suspek dengue di Kabupaten Indragiri Hilir dapat dikendalikan dan risiko penyebaran DBD di lingkungan permukiman bisa ditekan.
