DetakiNews, — Sore itu, langit Pelangiran tampak teduh. Angin berembus pelan menyusuri jalanan sederhana di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir. Di tengah suasana yang tenang, sekelompok anggota TNI dari Koramil 10/Pelangiran bersama ibu-ibu Persit melangkah membawa bingkisan sederhana—namun sarat makna.
Bukan sekadar rutinitas, kegiatan Jumat Berkah yang digelar pada Jumat (1/5/2026) ini menjadi wujud nyata kepedulian terhadap sesama. Dipimpin oleh Danramil 10/Pelangiran, Kapten Inf. Rudi Hartono, rombongan menyusuri wilayah binaan untuk menyapa langsung warga yang membutuhkan uluran tangan.
Turut mendampingi, Batuud Koramil 10/Pelangiran Serma Sugianto, Babinsa Serda Chandra Bastian, serta Ketua Persit KCK Ranting 11 Koramil 10/Pelangiran. Kehadiran mereka bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan kehangatan dan rasa diperhatikan bagi masyarakat.
Di Pasar Lama Pelangiran, rombongan berhenti di kediaman sederhana milik Ibu Asmah (60). Raut wajahnya yang semula biasa saja perlahan berubah haru saat menerima bantuan. Paket sembako berisi beras, gula, kacang hijau, dan mi instan itu mungkin tampak sederhana, namun bagi Ibu Asmah, bantuan tersebut sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak. Ini sangat membantu,” ucapnya lirih, dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan berlanjut ke Jalan Putri Tujuh, tempat tinggal Bapak Adam (45). Dengan senyum hangat, ia menyambut kedatangan rombongan. Bantuan yang diberikan menjadi penyemangat tersendiri di tengah tantangan hidup yang dihadapinya.
Kapten Inf. Rudi Hartono menuturkan bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang memberi, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. “Kami ingin hadir di tengah masyarakat, bukan hanya dalam tugas keamanan, tetapi juga dalam sisi kemanusiaan,” ujarnya.
Menurutnya, Jumat Berkah menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa empati dan memperkuat hubungan antara TNI dan rakyat. Ia berharap, langkah kecil ini dapat memberi dampak besar bagi kehidupan sosial di wilayah tersebut.
Di tengah keterbatasan, kepedulian seperti inilah yang menjadi cahaya. Bahwa masih ada tangan-tangan yang terulur, masih ada hati yang peduli. Dan di Pelangiran, Jumat sore itu menjadi saksi—bahwa kebersamaan dan kepedulian tetap hidup, menguatkan satu sama lain.

