DetakiNews, — Komitmen dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali ditunjukkan oleh aparat teritorial bersama masyarakat. Pada Selasa, 3 Februari 2026, sejak pukul 09.00 WIB, satu titik hotspot yang terpantau oleh Satelit Aplikasi Lancang Kuning (LK) berhasil ditangani melalui aksi pemadaman terpadu di wilayah Desa Pinang Jaya, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau.
Begitu informasi hotspot diterima, Babinsa Koramil 10/Pelangiran kodim 0314/Inhil, Serda Chandra Bastian, bergerak cepat menuju lokasi bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Beringin Mulya dan warga sekitar. Respons cepat ini menjadi langkah krusial untuk mencegah api meluas, mengingat kondisi lahan gambut yang sangat rentan terbakar dan sulit dipadamkan.
Berdasarkan data satelit, titik panas terdeteksi pada koordinat -0°12'53,6" N 103°22'4,04" E. Setelah dilakukan pengecekan langsung di lapangan, lokasi kebakaran dipastikan berada di Desa Beringin Mulya, Kecamatan Belengkong, Kabupaten Inhil – Riau.
Api diketahui telah membakar lahan seluas kurang lebih 0,5 hektar.
Lahan yang terbakar merupakan hutan dan semak belukar dengan struktur tanah gambut serta kondisi geografis dataran rendah. Karakteristik ini membuat api cepat menjalar di bawah permukaan tanah dan menimbulkan asap tebal. Lahan tersebut diketahui milik seorang warga bernama Sutri (60 tahun), warga Desa Beringin Mulya. Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh pihak terkait.
"Kita menerima laporan dari Satelit Aplikasi Lancang Kuning (LK) berhasil ditangani melalui aksi pemadaman terpadu di wilayah Desa Pinang Jaya, Kecamatan Pelangiran, namun setelah di cek lagi di lapangan bukan di Desa Pinang Jaya, tapi di Desa Beringin Mulya kecamatan Teluk Belengkong," ujar Babinsa.
Dalam proses pemadaman, Babinsa bersama MPA dan masyarakat melakukan berbagai upaya di lapangan, mulai dari pemadaman manual, pendinginan area terbakar, hingga pembuatan sekat bakar guna mencegah api menjalar ke area lain. Meski peralatan terbatas, semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi modal utama dalam mengendalikan situasi.
Namun demikian, pelaksanaan pemadaman tidak berjalan mudah. Jarak lokasi kebakaran yang cukup jauh dari sumber air menjadi hambatan utama, ditambah dengan terbatasnya jaringan komunikasi di lokasi kejadian. Kendala tersebut tidak menyurutkan semangat petugas dan warga untuk terus berjibaku di lapangan hingga api berhasil dikendalikan.
Di sela-sela kegiatan, Babinsa juga aktif memberikan imbauan dan edukasi kepada masyarakat, agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar. Langkah preventif ini dinilai sangat penting untuk menekan angka kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah rawan Karhutla seperti Kabupaten Indragiri Hilir.
Hingga laporan ini disusun, kondisi api telah berhasil dipadamkan, meski masih terdapat sisa asap tipis dari dalam tanah gambut. Proses pendinginan terus dilakukan untuk memastikan tidak muncul kembali titik api baru. Secara umum, situasi di lokasi terpantau aman, tertib, dan terkendali.
Kegiatan ini mencerminkan kuatnya sinergi antara TNI dan masyarakat dalam menjaga lingkungan serta menjadi bukti nyata kesiapsiagaan menghadapi ancaman Karhutla. Diharapkan, melalui kerja sama dan kesadaran bersama, wilayah Indragiri Hilir dapat terhindar dari bencana kebakaran hutan dan lahan yang berdampak luas bagi kesehatan, lingkungan, dan perekonomian masyarakat.
